Penyakit Alzheimer: Gejala dan Penyebab - GO.CARE Blog

Penyakit Alzheimer: Gejala dan Penyebab

Oleh: Willyson Eveiro
Tanggal publikasi: 18/11/2019 | Peninjauan terakhir: 18/11/2019
Penyakit Alzheimer: Gejala dan Penyebab

Jumlah penderita penyakit Alzheimer semakin meningkat berbareng dengan naiknya jumlah populasi berusia di atas 60 tahun. Di tahun 2012, organisasi Alzheimer’s Association memperkirakan sebanyak 5,4 juta orang Amerika menderita Alzheimer.

Menurut data yang dikutip dari National Institute on Aging, Alzheimer adalah penyebab kematian tertinggi ketiga, hanya berada di belakang penyakit jantung dan kanker, untuk orang lanjut usia di Amerika Serikat.

Lantas, bagaimana dengan jumlah penderita Alzheimer di Indonesia? Pada tahun 2016 lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis angka bahwa sekitar 1 juta orang Indonesia menderita penyakit Alzheimer.

Apa itu penyakit Alzheimer?

Penyakit Alzheimer adalah gangguan otak yang memengaruhi ingatan, pemikiran, dan interaksi sosial penderitanya. Alzheimer bersifat progresif, yang mana kondisi akan berkembang menjadi lebih buruk seiring waktu.

Kondisi Alzheimer umumnya ditandai dengan demensia ringan. Demensia sendiri adalah merosotnya pemikiran akibat gangguan pada otak. Harap dicatat bahwa demensia adalah istilah umum untuk merosotnya kemampuan otak.

Dari tanda-tanda demensia ringan, seperti pikun, penyakit Alzheimer bisa berkembang menjadi lebih parah. Saat penyakit sudah di tahap akhir atau parah, kondisi ini bisa mengakibatkan kerusakan serius pada otak. Alhasil, penderita kesulitan atau tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Kasus Alzheimer selalu berbeda di antara setiap penderita. Ada yang perkembangannya begitu cepat; ada juga yang lambat. Rata-rata jangka hidup seorang penderita setelah didiagnosis Alzheimer adalah 8—10 tahun. Akan tetapi, diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu jangka hidup pengidap Alzheimer.

Sekilas informasi, nama Alzheimer diambil dari nama seorang dokter, yakni dr. Alois Alzheimer. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh dirinya pada tahun 1906. Saat itu, dia menangani seorang pasien yang mengalami kehilangan ingatan, kesulitan berbicara, dan perilaku yang tidak terkendali. Setelah pasien itu meninggal, dr. Alzheimer meneliti otak pasien dan menemukan adanya gumpalan ganjil dan kusut pada serat saraf otak.

Penyebab penyakit Alzheimer

Apa yang menyebabkan penyakit Alzheimer?

ilustrasi penyebab penyakit alzheimer

Sampai saat ini, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti apa penyebab Alzheimer. Pemicu penyakit ini dianggap berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada otak selama beberapa dekade. Perubahan, yang dianggap rumit ini, membuat sel-sel otak yang bertanggung jawab terhadap kemampuan kognitif menjadi lebih lemah hingga akhirnya tidak mati.

Kemudian, adanya pertumbuhan protein-protein abnormal juga dipercaya menjadi penyebab penyakit Alzheimer. Pertumbuhan itu menyebabkan terciptanya plak di dalam dan sekitar sel-sel otak. Akibat dari pertumbuhan tidak normal adalah terjadinya gangguan transmisi informasi di otak.

Selain di atas, penyakit Alzheimer juga berkembang akibat kombinasi gaya hidup, faktor keturunan, dan lingkungan.

Siapa yang berisiko terkena Alzheimer?

Alzheimer umumnya terjadi pada orang lajut usia. Gejala-gejala penyakit Alzhimer kerap muncul di usia 60-an. Orang dengan kelainan otak bawaan atau pernah mengalami cedera otak juga rentan terhadap penyakit Alzheimer.

Faktor risiko penyebab penyakit Alzheimer

Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab Alzheimer, seperti:

  • Usia;
  • Riwayat medis keluarga;
  • Gangguan kognitif ringan;
  • Cedera kepala atau otak;
  • Gaya hidup yang tidak sehat (jarang berolahraga, perokok aktif, jarang mengonsumsi buah atau sayur);
  • Penyakit kardiovaskular;
  • Tekanan darah tinggi atau hipertensi, kadar kolesterol darah naik, kadar homosistein tinggi;
  • Faktor pendidikan formal;
  • Jarang melakukan aktivitas yang mengharuskan penggunaan pemikiran secara aktif, seperti membaca, bermain gim, dan bermain alat musik;
  • Jarang berinteraksi sosial.

Tanda dan gejala penyakit Alzheimer

Apa saja tanda dan gejala Alzheimer?

Gejala-gejala penyakit Alzheimer berbeda di setiap fase perkembangan kondisi ini. Secara keseluruhan, penyakit Alzheimer bisa dibagi menjadi 4 tahap:

Tahap awal

Gejala awal termasuk sering lupa (nama, tempat penyimpanan barang), merosotnya kemampuan kognitif, masalah penglihatan, dan menurunnya penalaran atau cara berpikir logis.

Tahap ringan

Alzheimer ringan artinya penyakit mulai berkembang ke tahap yang lebih parah. Penderita akan mengalami kehilangan memori dan cara berpikir menjadi tidak wajar. Tanda-tanda ini dapat diamati dari kecenderungan pengidap untuk berkeliaran hingga tersesat, mengulang pertanyaan berulang kali, menceritakan cerita yang sama berkali-kali, dan susah untuk mengingat sesuatu.

Tahap sedang

Di fase ini, penyakit Alzheimer sudah mengganggu area otak yang bertanggung jawab terhadap kemampuan kognitif penderita. Alhasil, pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk melakukan berbagai macam aktivitas secara bersamaan dan tidak mampu mempelajari hal-hal baru. Tanda-tanda lainnya meliputi halusinasi, paranoia, dan menunjukkan perilaku impulsif.

Tahap parah

Kerusakan yang terjadi berkembang semakin cepat di otak. Kemungkinan penerita hanya bisa berbaring di kasur dan harus dirawat oleh orang lain.

Kapan harus menghubungi dokter?

Jika kerabat Anda menunjukkan gejala-gejala di atas, harap segera konsultasi dengan dokter Anda. Dengan begitu, diagnosis bisa segera dilakukan karena kasus penyakit Alzheimer berbeda pada setiap orang.

Diagnosis dan pengobatan penyakit Alzheimer

Cara mendiagnosis penyakit Alzheimer

ilustrasi skrining penyakit alzheimer

Untuk membantu diagnosis Alzheimer, dokter akan memeriksa kesehatan umum, riwayat medis, dan kemampuan kognitif pasien. Dokter juga akan mengecek kemampuan berpikir logis pasien, koordinasi dan keseimbangan tubuh, serta pemeriksaan sensasi.

Secara garis besar, metode-metode paling umum untuk mendiagnosis Alzheimer adalah:

  • Bertanya kepada pasien terkait kesehatannya, obat-obatan yang dikonsumsi, dan diet.
  • Mempelajari riwayat medis pasien.
  • Memeriksa perubahan perilaku dan kepribadian.
  •  Mengecek kemampuan pasien, dari kecerdasan, ingatan, daya tangkap, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
  • Skrining otak menggunakan alat medis, seperti CT scan, MRI, dan PET.
  • Tes urine dan darah untuk mengetahui apakah kondisi disebabkan oleh kondisi lainnya.

Pengobatan penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer masih termasuk dalam jenis penyakit yang belum bisa diobati. Pengobatan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala dan menghambat perkembangan kondisi ini.

Pengobatan pilihan untuk Alzheimer umumnya meliputi:

Obat-obatan

Untuk mengontrol gejala-gejala yang dirasakan pasien, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan yang mampu memperlambat perkembangan penyakit. Contohnya adalah inhibitor asetilkolinesterase dan memantine. Pasien mungkin juga akan diberikan obat untuk membantu kecemasan atau anxiety, depresi, agitasi, dan masalah perilaku lainnya.

Pengasuhan

Kondisi ini menyebabkan kerusakan serius pada kemampuan kognitif penderita. Untuk membantu aktivitas sehari-hari penderita, kerabat penderita bisa membuat arahan penting berbentuk cetakan kertas di sekitar rumahnya. Kemudian, sangat disarankan agar penderita Alzheimer tetap berada di lingkungan yang sama. Perubahan lingkungan boleh dilakukan jika sangat diperlukan.

Pengobatan regeneratif

Terapi regeneratif bisa menjadi pilihan pengobatan alternatif untuk penderita Alzheimer. Salah satu jenis pengobatan regeneratif untuk Alzheimer adalah terapi stem cell. Menurut para peneliti, sel punca dapat menggantikan sel-sel otak yang hampir rusak dan meningkatkan fungsi otak. Hasil dari pengobatan regeneratif, seperti stem cell untuk Alzheimer adalah peningkatan signifikan pada kualitas hidup si pasien dan gejala-gejala penyakit yang lebih terkendali.

Pencegahan penyakit Alzheimer

Ada beberapa cara untuk meminimalisasi risiko terserang penyakit Alzheimer, misalnya:

Rajin melakukan aktivitas fisik

Walaupun peneliti masih belum yakin dengan hubungan antara aktivitas fisik dan penyakit Alzheimer, olahraga tetap memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Menurut hasil penelitian, orang yang jarang berolahraga lebih rentan mengalami masalah kognitif.

Amati tekanan darah

Studi menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi, ketika digabungkan dengan faktor pemicu penyakit cerebrovascular (diabetes atau merokok) dapat meningkatkan risiko demensia. Kadar gula darah tinggi juga berkaitan erat dengan risiko demensia. Untuk menjaga tekanan darah di kadar normal, Anda bisa menerapkan gaya hidup sehat.

Mengikuti pelatihan kognitif

Pelatihan kognitif bisa membantu pikiran tetap tajam. Kecepatan dan akurasi seseorang dalam menyerap informasi dapat membantu kemampuan kognitif manusia.

Memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer

Menjaga kualitas hidup setelah diagnosis penyakit Alzheimer adalah suatu tantangan tersendiri untuk penderita dan kerabatnya. Kebiasaan yang bisa dipraktikkan setelah diagnosis Alzheimer adalah:

  • Mencari dukungan dan perawatan dari kerabat atau orang lain;
  • Mulai menyederhanakan aktivitas sehari-hari dan lingkungan tempat tinggal;
  • Junjung pemikiran positif setinggi-tingginya.

GO.CARE - Healthcare Made Simple

LAYANAN WISATA KESEHATAN TERBAIK DI ASIA

Kunjungi situs GO.CARE untuk mempelajari lebih lanjut terkait rumah sakit atau klinik terbaik di Asia.

Konsultasi gratis terkait tempat pengobatan terbaik di sini.

GO.CARE tidak menyediakan saran medis, diagnosis, dan pengobatan.