Pengobatan Diabetes Tipe 2 tanpa Insulin - GO.CARE Blog

Pengobatan Diabetes Tipe 2 tanpa Insulin

Oleh: Willyson Eveiro
Tanggal publikasi: 20/11/2019 | Peninjauan terakhir: 20/11/2019
Pengobatan Diabetes Tipe 2 tanpa Insulin

Pada beberapa kasus, penderita diabetes tipe 2 juga memerlukan suntikan insulin layaknya penderita diabetes tipe 1. Suntikan insulin sudah menjadi pengobatan konvensional untuk penyakit diabetes baik tipe 1 atau 2. Akan tetapi, pengobatan ini memiliki beberapa kelemahan. Jika diabetesi—istilah untuk penderita diabetes—harus menerima suplemen insulin, si pasien harus melakukannya setiap hari. Selain mengganggu jalannya hari, pengobatan ini juga membebani secara finansial. Oleh karena alasan-alasan tersebut, banyak penderita dan peneliti mulai mencari metode pengobatan diabetes tipe 2 tanpa insulin.

Apa itu diabetes?

Pada penyakit diabetes melitus, atau diabetes, seorang penderita mengalami masalah kesehatan di mana tubuhnya memiliki kadar gula darah sangat tinggi. Kadar glukosa yang tinggi mampu menyebabkan komplikasi dan berisiko membahayakan kesehatan pengidap.

Secara umum, penyakit diabetes dibagi menjadi 2 jenis, yakni diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 1

Diabetes tipe 1 disebabkan oleh gagalnya pankreas dalam menghasilkan jumlah insulin yang diperlukan tubuh manusia. Insulin sendiri merupakan hormon yang digunakan tubuh untuk mengolah gula darah. Kekurangan insulin membuat gula darah tidak dapat diubah menjadi energi.

Baca juga:  Diabetes Tipe 1: Gejala, Diagnosis & Pengobatan

Diabetes tipe 2

Layaknya tipe 1, diabetes tipe 2 adalah kondisi tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah. Penyakit diabetes tipe 2 membuat tubuh tidak bisa menggunakan insulin yang dihasilkan oleh pankreas dengan baik. Kondisi ini dikenal dengan istilah resistensi insulin. Dampak penyakit kencing manis ini membuat gula darah menumpuk dan bisa berujung pada penyakit jantung, mata, ginjal, saraf, gusi, dan gigi.

Baca juga: Diabetes Tipe 2: Gejala, Diagnosis & Pengobatan

Injeksi insulin, metode konvensional pengobatan diabetes

Pengidap diabetes, terutama penderita diabetes tipe 1, umumnya menerima suplemen insulin atau obat-obatan untuk mengendalikan gejala-gejala penyakit ini.

Sementara itu, pengidap diabetes tipe 2 dapat memilih opsi pengobatan lain, seperti mengubah gaya hidup dan pola makan yang sehat. Akan tetapi, terkadang opsi pengobatan tersebut tidak cukup dan membuat penderita harus tetap melakukan terapi insulin.

Pengobatan berbasis insulin sendiri tidak dikonsumsi melalui mulut, tetapi disuntikkan ke tubuh. Ada 3 tipe insulin untuk pengobatan diabetes, dengan kecepatan dan durasi yang berbeda satu sama lain:

  • Rapid-acting insulin: insulin bekerja 5 hingga 15 menit setelah disuntikkan; efektivitas hanya bertahan selama 3 sampai 5 jam.
  • Short-acting insulin: efektivitas setelah injeksi bertahan selama 6—8 jam, tetapi insulin bekerja dalam waktu 30—60 menit setelah diinjeksi ke tubuh.
  • Long-acting insulin: mulai bekerja 60—120 menit setelah diinjeksi, tetapi durasi efektivitas dari suntikan insulin bertahan paling lama, yakni 14—24 jam.

pengobatan diabetes tipe 2 tanpa insulin

Efek samping insulin

Setiap pengobatan memiliki efek samping. Hal ini juga berlaku untuk terapi insulin. Contoh-contoh berikut adalah akibat dari terapi insulin jangka panjang terhadap tubuh Anda.

Hipoglikemia

Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, hipoglikemia adalah kondisi turunnya gula darah secara tidak wajar.

Efek samping yang paling dikenal akibat injeksi insulin ke tubuh adalah hipoglikemia. Diperkirakan terjadi pada 16% dan 10% dari penderita diabetes tipe 1 dan 2. Gejala-gejala hipoglikemia mencakup:

  • Kebingungan
  • Berkeringat
  • Irama jantung tidak wajar
  • Kehilangan koordinasi otot

Pada kasus hipoglikemia yang serius, seorang pasien bisa menderita gangguan neuropsikologis yang bertahan lama.

Kondisi ini mungkin terjadi pada pasien yang sering melakukan injeksi insulin. Data hasil penelitian, yang dilakukan terhadap 600 diabetesi, dan dipublikasi oleh Drugs.com menunjukkan bahwa bahaya hipoglikemia pernah menghantui diabetesi yang menerima injeksi insulin sekitar 17 tahun lamanya. Pengidap di penelitian tersebut yang belum pernah mengalami hipoglikemia umumnya baru menerima injeksi insulin selama sekitar 14 tahun.

Penglihatan kabur

Injeksi insulin menyebabkan gangguan penglihatan. Kondisi ini dikenal dengan nama presbyopia bilateral, kondisi di mana penderita kesulitan melihat objek-objek di depan mata walaupun jarak pandang tergolong dekat.

Reaksi kulit

Ada perubahan yang mungkin terjadi akibat injeksi insulin, seperti infeksi di kulit. Ini kerap terjadi jika diabetesi penerima injeksi insulin tidak menjaga kebersihan tubuh dengan baik.

Penerima suntikan insulin juga akan merasakan penumpukan jaringan lemak atau hilangnya jaringan tersebut di bawah permukaan kulit area penyuntikan.

Hipersensitivitas

Injeksi insulin dapat mendorong terjadinya hipersentivitas. Misalnya, pembengkakan dan kemerahan abnormal pada kulit (eritema).

Respons sistem imun tubuh

Injeksi insulin secara rutin mampu menyebabkan reaksi pada sistem imun tubuh. Reaksi yang bisa terjadi adalah sistem kekebalan tubuh membuat antibodi agar tubuh menjadi kebal terhadap insulin. Akibatnya, sebagian insulin yang diinjeksi bisa dimusnahkan oleh sistem imun tubuh.

Penyakit jantung

Diabetes erat dikaitkan sebagai penyebab penyakit jantung dan hubungan ini mendorong beberapa peneliti membuat kesimpulan bahwa injeksi insulin mungkin menjadi pemicunya. Insulin dianggap mendorong terbentuknya plak lemak di pembuluh darah dalam tubuh. Beberapa masalah kardiovaskular yang umum terjadi pada diabetesi adalah fungsi trombosit yang tidak teratur dan kadar lipid yang tidak wajar atau dislipidemia.

Di sisi lain, injeksi insulin juga dapat mengganggu sistem saraf simpatik yang berujung pada naiknya tekanan darah.

Berat badan bertambah

Bertambahnya jumlah insulin membantu menghilangkan glikosuria dan mengurangi metabolisme protein dan glukosa nonoksidatif. Ini membuat mengurangi pengeluaran energi harian. Alhasil, tingkat lemak tubuh menjadi naik, yang kemudian membuat berat badan meningkat. Terapi insulin yang dilakukan terus-menerus membuat risiko efek samping ini makin tinggi.

Masalah metabolisme

Terapi insulin bisa meningkatkan transportasi fosfat dalam sel tubuh, yang sering menurunkan kadar fosfat di dalam darah. Kondisi ini juga dikenal sebagai hipofosfatemia. Selain itu, jumlah kalium dan magnesium di dalam aliran darah juga dapat menurun.

Problem ginjal

Hipoglikemia dapat mengurangi aliran plasma ginjal dan laju filtrasi glomerolus, serta meningkatkan pengeluaran albumin melalui urine.

Gangguan pencernaan

Meskipun jarang terjadi, gangguan pencernaan juga mungkin terjadi setelah menerima terapi insulin.

Pengobatan diabetes tipe 2 tanpa insulin

Efek samping yang dapat terjadi serta kerumitan injeksi insulin membuat diabetesi melirik metode pengobatan diabetes tipe 2 tanpa insulin. Contoh pengobatan diabetes tipe 2 tanpa insulin mencakup:

Gaya hidup sehat

Jaga kadar gula darah dengan:

  • Konsumsi pola makan sehat
  • Latihan aerobik 30 menit per hari; 5 hari per minggu
  • Lakukan aktivitas yang memperkuat otot
  • Istirahat yang cukup
  • Jangan merokok

Terapi stem cell

Terapi stem cell (sel punca atau induk) untuk diabetes dianggap mampu membantu regenerasi sel beta—sel yang memproduksi insulin—yang hilang dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Hasil terapi sel punca membantu menyembuhkan diri dari dalam, meningkatkan produksi insulin sembari membantu tubuh memproses insulin lebih baik dari sebelumnya. Singkatnya, terapi sel induk untuk diabetes dapat membuat kesehatan dan kualitas hidup menjadi jauh lebih baik.

Ingin bertanya-tanya seputar terapi stem cell untuk diabetes dan tempat pengobatan terbaik untuk Anda? Hubungi GO.CARE dengan mengisi form di bawah ini atau nomor telepon dan surel kami. Kami siap membantu Anda berobat ke luar negeri, di rumah sakit dan klinik terbaik.

GO.CARE - Healthcare Made Simple

LAYANAN WISATA MEDIS TERBAIK DI ASIA

Telepon/WA: +6281314906154

Email: [email protected]

Facebook: https://www.facebook.com/GCGINDO/

Kunjungi www.go.care untuk melihat rumah sakit/klinik terbaik di Asia.

Kami siap membantu masalah kesehatan yang dialami; konsultasi tempat pengobatan terbaik di sini.

GO.CARE tidak menyediakan saran medis, diagnosis, dan pengobatan.